Wilujeng Hani Istiqomah: Terlalu Tulus Blogger Widgets

Sabtu, 19 Oktober 2013

Terlalu Tulus

             Dari jam pelajaran pertama sampai pelajaran ke enam adalah pelajaran kosong pada hari Jum’at ini dikelasku. Alhasil kupakai waktu itu dengan menyanyi bersama, walaupun suara ku sedikit bindeng karena flu dan mengajarkan Diah pelajaran matematika, karena dia akan mengikuti ulangan susulan nanti sepulang sekolah.

            “Eh Han! Ayo kumpul SIGMA, mumpung pada shalat jum’at, buat bahas LDKS” Ajak teman ekskul ku yang tiba – tiba datang dan sontak membuatku terkejut.

            “Hah ? Sekarang nih? Katanya nanti pas pulang sekolah?”

            “Udah sekarang aja, ayoooooo! Dikelas Ana yaa”

             Dari jam 12 kurang sampai setengah 2 ekskul ku mengadakan meeting mendadak, ku pikir Pak Doni guru matematika ku tidak mengajar hari ini karena pertandingan LIGA EXSCHOOL sudah dimulai, sehingga kusantai - santai saja dikelas Ana.
            Tetapi saat kembali kekelas. Betapa kagetnya aku, Diah dan Arum yang ikut meeting itu saat mengetahui Pak Doni sudah ada dikelas.

            Tok.. Tok..
             “Assalamu’alaikum. Maaf pak kami telat, tadi ada kumpul Ekskul dulu” Alasanku sembari mencium tangannya.
           Sekitar sepuluh menit kemudian bel jam pulang sekolah berbunyi. Karena tak sempat mencatat seluruh pelajaran tadi, sehinggaa kupinjam saja buku teman sebangkuku, Yeni. Dan segera ku pergi meninggalkan kelas menuju Masjid sekolah, karena kebetulan tadi aku belum shalat Dzuhur.
~ ~
            Kalau aku gak punya janji hari ini, pengen banget rasanya aku langsung pulang.

            Ya kemarin saatku selesai menonton LIGA Exschool disekolah demi mendukung tim cewek yang tanding, kebetulan aku diminta juga oleh salah satu dari mereka untuk mendukungnya.  Disela – sela ku menonton pertandingan itu, tanpa kusadari seorang cowok dari kelas 12 Ips 4 yang dahulu juga menjadi teman sekelasku di X.7 sudah berdiri disampingku.

            Kedatangan cowok itu ternyata bermaksud untuk menyatakan perasaannya ke Hani. Dan meminta untuk aku menjadi pacarnya. Jelas saja ku menolak, bukan karena dia tidak baik, bahkan akupun tak punya alasan untuk menolaknya, kecuali ada rasa sayang yang cukup besar dalam hatiku untuk Ibnu yang membuatku tak bisa menjalin sebuah hubungan dengan orang lain.

            Dia gak terima penolakan aku dengan tanpa alasan, sehingga dia membuat suatu perjanjian seperti ini. Aku harus menonton final kelas 12 IPS 4 hari ini, dia berjanji akan mencetak gol-gol indahnya untukku, bila kelasnya menang dalam pertandingan itu maka aku harus mau menjadi pacarnya, jika kalah dia berjanji tidak akan mengejar- ngejar ku lagi. Terpaksa ku mengiyakan perjanjian tersebut karena kegeraman ku yang malas meladeninya.

            Bagus saja pertandingan itu dimenangkan oleh lawan mainnya 12 IPS 4 dengan tendangan pinalti, Alhamdulillah.

            “Selamat yaa atas terkabulnya do’a lu yang membuat gue kalah” Katanya melihatku dengan nada kesal.

            “mungkin ini memang sudah jalan Allah buat kita, bukankah berteman lebih baik?”

            “Lalu bagaimana rasa sayang gue ke lo Han?”

            “Ya gak gimana-gimana. Pacaran kan hanya sebuah status, gak lebih.”
Jelasku untuk menenangkannya, dan dia pun sembari meringkas barang-barangnya ke dalam tas.

            “Ya sudahlah kita pulang yuk, motor lo dimana? Biar gue temenin.” Ajaknya sembari kami berjalan menuju sebuah parkiran sekolah.

            Hari jum’at yang panjang ini berakhir, rasa cemasku karena janji itu pun menghilang. Ya Allah terimakasih atas jalanmu, Alhamdulillah. Meski disini ku terlihat bodoh karena telah mensia-siakan orang yang benar-benar tulus sayang padaku demi orang lain yang ada dihatiku padahal belum tentu orang yang kusayangi itu memiliki rasa sayang yang lebih besar darinya, atau mungkin dia belum tentu menyayangiku juga. Hmmm entahlah, kuserahkan semuanya pada Allah. Hanya dialah yang dapat membolak – balikan perasaan manusia sebagai penciptanya.

~Selesai~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar