Dari jam pelajaran pertama sampai pelajaran ke
enam adalah pelajaran kosong pada hari Jum’at ini dikelasku. Alhasil kupakai
waktu itu dengan menyanyi bersama, walaupun suara ku sedikit bindeng karena flu
dan mengajarkan Diah pelajaran matematika, karena dia akan mengikuti ulangan
susulan nanti sepulang sekolah.
“Eh
Han! Ayo kumpul SIGMA, mumpung pada shalat jum’at, buat bahas LDKS” Ajak teman
ekskul ku yang tiba – tiba datang dan sontak membuatku terkejut.
“Hah
? Sekarang nih? Katanya nanti pas pulang sekolah?”
“Udah
sekarang aja, ayoooooo! Dikelas Ana yaa”
Dari jam 12 kurang sampai setengah 2 ekskul ku
mengadakan meeting mendadak, ku pikir Pak Doni guru matematika ku tidak
mengajar hari ini karena pertandingan LIGA EXSCHOOL sudah dimulai, sehingga
kusantai - santai saja dikelas Ana.
Tetapi
saat kembali kekelas. Betapa kagetnya aku, Diah dan Arum yang ikut meeting itu
saat mengetahui Pak Doni sudah ada dikelas.
Tok..
Tok..
“Assalamu’alaikum. Maaf pak kami telat, tadi
ada kumpul Ekskul dulu” Alasanku sembari mencium tangannya.
Sekitar sepuluh menit kemudian bel jam pulang
sekolah berbunyi. Karena tak sempat mencatat seluruh pelajaran tadi, sehinggaa
kupinjam saja buku teman sebangkuku, Yeni. Dan segera ku pergi meninggalkan
kelas menuju Masjid sekolah, karena kebetulan tadi aku belum shalat Dzuhur.
~
~
Kalau
aku gak punya janji hari ini, pengen banget rasanya aku langsung pulang.
Ya
kemarin saatku selesai menonton LIGA Exschool disekolah demi mendukung tim
cewek yang tanding, kebetulan aku diminta juga oleh salah satu dari mereka
untuk mendukungnya. Disela – sela ku
menonton pertandingan itu, tanpa kusadari seorang cowok dari kelas 12 Ips 4
yang dahulu juga menjadi teman sekelasku di X.7 sudah berdiri disampingku.
Kedatangan
cowok itu ternyata bermaksud untuk menyatakan perasaannya ke Hani. Dan meminta
untuk aku menjadi pacarnya. Jelas saja ku menolak, bukan karena dia tidak baik,
bahkan akupun tak punya alasan untuk menolaknya, kecuali ada rasa sayang yang
cukup besar dalam hatiku untuk Ibnu yang membuatku tak bisa menjalin sebuah
hubungan dengan orang lain.
Dia
gak terima penolakan aku dengan tanpa alasan, sehingga dia membuat suatu
perjanjian seperti ini. Aku harus menonton final kelas 12 IPS 4 hari ini, dia
berjanji akan mencetak gol-gol indahnya untukku, bila kelasnya menang dalam
pertandingan itu maka aku harus mau menjadi pacarnya, jika kalah dia berjanji
tidak akan mengejar- ngejar ku lagi. Terpaksa ku mengiyakan perjanjian tersebut
karena kegeraman ku yang malas meladeninya.
Bagus
saja pertandingan itu dimenangkan oleh lawan mainnya 12 IPS 4 dengan tendangan
pinalti, Alhamdulillah.
“Selamat
yaa atas terkabulnya do’a lu yang membuat gue kalah” Katanya melihatku dengan
nada kesal.
“mungkin
ini memang sudah jalan Allah buat kita, bukankah berteman lebih baik?”
“Lalu
bagaimana rasa sayang gue ke lo Han?”
“Ya
gak gimana-gimana. Pacaran kan hanya sebuah status, gak lebih.”
Jelasku untuk menenangkannya, dan dia pun
sembari meringkas barang-barangnya ke dalam tas.
“Ya
sudahlah kita pulang yuk, motor lo dimana? Biar gue temenin.” Ajaknya sembari
kami berjalan menuju sebuah parkiran sekolah.
Hari
jum’at yang panjang ini berakhir, rasa cemasku karena janji itu pun menghilang.
Ya Allah terimakasih atas jalanmu, Alhamdulillah. Meski disini ku terlihat
bodoh karena telah mensia-siakan orang yang benar-benar tulus sayang padaku
demi orang lain yang ada dihatiku padahal belum tentu orang yang kusayangi itu
memiliki rasa sayang yang lebih besar darinya, atau mungkin dia belum tentu
menyayangiku juga. Hmmm entahlah, kuserahkan semuanya pada Allah. Hanya dialah
yang dapat membolak – balikan perasaan manusia sebagai penciptanya.
~Selesai~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar